Fakta Sejarah Tersembunyi: RA Kartini Ternyata Santri Mbah KH Sholeh Darat

Raden Adjeng Kartini, yang terkenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia, ternyata memiliki latar belakang yang lebih dalam dalam konteks spiritual dan pendidikan. Ia lahir dari keluarga priyayi, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang menjabat sebagai bupati di Jepara. Sebagai anak dari istri pertama, ia memiliki silsilah yang dapat ditelusuri hingga Hamengkubuwana VI. Situasi sosial dan budaya pada masa itu memaksa ayahnya untuk menikahi seorang bangsawan, yang mengubah posisi keluarga mereka di masyarakat.
Kehidupan Awal dan Pendidikan Kartini
Menjadi anak kelima dari sebelas bersaudara, Kartini tumbuh di lingkungan yang kaya akan tradisi dan pelajaran. Ia menghabiskan masa kecilnya dengan belajar di ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun. Di sekolah ini, Kartini mempelajari bahasa Belanda, namun setelah mencapai usia yang ditentukan, ia harus tinggal di rumah dan tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikannya. Hal ini menimbulkan rasa frustrasi di dalam dirinya, terutama dalam memahami agama Islam yang dianutnya.
Surat-Surat yang Mencerminkan Kegalauan Kartini
Dalam surat yang ditujukan kepada sahabatnya Stella Zihandelaar pada 6 November 1899, Kartini mengungkapkan keraguannya terhadap pemahaman agama. Ia merasa tidak bisa mencintai Islam jika ia tidak memahami ajaran-ajarannya. Kartini mengeluhkan bahwa Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan, sehingga orang-orang di sekitarnya tidak dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Ia mengekspresikan kekecewaannya terhadap praktik belajar yang hanya berfokus pada penghafalan tanpa pemahaman, merasa seolah-olah ia hanya diajarkan membaca tanpa tahu apa yang dibaca. Dalam surat lain kepada Ny Abendanon pada 15 Agustus 1902, Kartini menegaskan keinginannya untuk memahami makna ajaran Islam dan menolak untuk terjebak dalam rutinitas belajar yang tidak bermanfaat.
Pertemuan dengan Kyai Sholeh Darat
Di balik surat-suratnya yang terkesan sekuler, terdapat kisah yang kurang diketahui tentang penghargaan Kartini terhadap Islam dan ilmu tasawuf. Dalam surat-surat yang telah diedit oleh Ny Abendanon, dia tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh Darat, seorang ulama terkemuka dari Semarang. Pertemuan ini diungkapkan oleh cucunya, Ibu Fadhila Sholeh, yang menceritakan bagaimana takdir mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholeh dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat.
Pada kesempatan itu, Kartini melihat langsung bagaimana Kyai Sholeh mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. Ketertarikan Kartini yang dalam terhadap ajarannya membuatnya memahami makna surat tersebut, sesuatu yang sebelumnya tidak ia dapatkan dalam pembelajaran agama yang ia jalani.
Dialog Pertama antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat
Setelah pengajian, Kartini merasa terdorong untuk mendekati Kyai Sholeh. Dalam dialog yang penuh rasa ingin tahu, ia menanyakan hukum menyembunyikan ilmu. Pertanyaan ini menunjukkan kedalaman pemikiran Kartini, mengingat betapa pentingnya bagi dirinya untuk memahami makna yang terkandung dalam ajaran agamanya. Kyai Sholeh, terkesan dengan pertanyaan tersebut, mendengar dengan seksama saat Kartini mengungkapkan betapa ia baru pertama kali memahami keindahan Al-Fatihah.
Kartini melanjutkan dengan mempertanyakan mengapa para ulama melarang penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Pertanyaan ini tidak hanya mencerminkan rasa ingin tahunya, tetapi juga menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk mulai memikirkan penerjemahan Al-Qur’an agar lebih mudah dipahami oleh umat.
Menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa
Dalam pertemuan tersebut, Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan, mengingat betapa sulitnya memahami teks agama tanpa mengetahui maknanya. Meskipun pada saat itu ada larangan dari penjajah Belanda untuk menerjemahkan Al-Qur’an, Kyai Sholeh berani melanggar larangan tersebut dengan cara yang cerdik; ia menuliskan terjemahan dalam huruf Arab Pegon, yang tidak dapat dikenali oleh penjajah.
- Kitab Faidhur-Rohman: Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa.
- Hadiah untuk Kartini: Kitab tersebut diberikan pada saat pernikahannya.
- Makna Al-Fatihah: Kartini merasa bahwa surat tersebut kini menjadi terang setelah penjelasan Kyai Sholeh.
- Penerjemahan yang berani: Kyai Sholeh melanggar larangan untuk menerjemahkan Al-Qur’an.
- Kesadaran baru: Kartini dan Kyai Sholeh berbagi pemahaman yang lebih dalam mengenai agama.
Kartini sangat menghargai hadiah itu, mengungkapkan betapa sebelumnya Al-Fatihah terasa gelap baginya, dan kini setelah penjelasan Kyai Sholeh, ia dapat memahami makna yang tersirat di dalamnya. Dengan membaca kitab tersebut, ia merasa mendapatkan pencerahan baru dalam pemahaman agamanya.
Transformasi Spiritual Kartini
Pengalaman belajar dengan Kyai Sholeh Darat menjadi titik balik dalam perjalanan spiritual Kartini. Ia mulai menilai kembali pandangannya terhadap dunia Barat, di mana sebelumnya ia menganggap masyarakat Eropa sebagai yang terbaik. Dalam suratnya kepada Ny Abendanon pada 27 Oktober 1902, Kartini mengekspresikan penyesalan atas pandangan tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada masyarakat yang sempurna.
Ia bertekad untuk memperbaiki citra Islam yang sering disalahpahami. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol pada 21 Juli 1902, Kartini menegaskan keinginannya untuk mengangkat nama agama Islam sebagai agama yang dicintai. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi yang dialaminya bukan hanya bersifat pribadi, tetapi juga sosial, di mana ia ingin membawa perubahan positif bagi masyarakat.
Pemikiran dan Ajaran Kyai Sholeh Darat
Kyai Sholeh Darat, sebagai guru dan mentor bagi Kartini, juga dikenal sebagai pelopor dalam penyebaran pemikiran Islam di Jawa. Lahir di Desa Kedung Jumbleng pada sekitar tahun 1820, Kyai Sholeh dikenal sebagai seorang waliyullah yang melahirkan banyak ulama besar, seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Dalam ajarannya, ia selalu menekankan pentingnya menuntut ilmu dan berpegang pada ajaran Ahlussunah Wal Jamaah.
Karya-karya Kyai Sholeh, termasuk terjemahan Al-Qur’an, menjadi fondasi bagi banyak pengajaran agama di pesantren. Ia menggunakan bahasa Jawa dalam karyanya agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam. Melalui pendekatan tersebut, Kyai Sholeh berhasil menjembatani antara ajaran agama dan pemahaman masyarakat.
Peninggalan dan Warisan Kyai Sholeh Darat
Warisan intelektual Kyai Sholeh Darat terus hidup hingga sekarang. Karya-karyanya masih dibaca dan dipelajari di banyak pesantren di Jawa. Meskipun ia tidak sepopuler tokoh-tokoh lain, sumbangsihnya dalam pendidikan dan penyebaran Islam sangat besar. Ia mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan dan pemahaman agama adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kyai Sholeh Darat meninggal dunia pada 28 Ramadan 1321 H/18 Desember 1903 dan dimakamkan di Bergota, Semarang. Haul-nya dihadiri oleh banyak umat yang menghormati dan mengenang jasa-jasanya. Momen tersebut menjadi simbol penghargaan masyarakat terhadap kontribusinya dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Dengan demikian, hubungan antara R.A. Kartini dan Kyai Sholeh Darat bukan hanya sekadar pertemuan antara seorang murid dengan gurunya, tetapi juga menggambarkan keterhubungan antara tradisi dan modernitas dalam pemahaman agama. Melalui pengalaman Kartini, kita dapat melihat bagaimana pendidikan dan spiritualitas saling melengkapi dalam membentuk identitas seorang wanita yang berani memperjuangkan hak-haknya.